Selasa, 24 Januari 2012

Konspirasi Bom Bali

Tidak hanya pada peristiwa Tragedi Penabrakan Pesawat yang terjadi pada 11 September 2001 yang diyakini banyak orang ada konspirasi dalam tragedi tersebut (baca: Banyak Warga Dunia Percaya Ada Konspirasi pada Serangan 11 September) Tetapi pada peristiwa Bom bali yang terjadi pada tanggal 12 Oktober 2002 di Bali juga diyakini banyak orang . dan mengenai hal ini banyak sekali analisis yang menyampaikan hal tersebut, dan salah satunya adalah tulisan berikut ini yang bersumber dari FORUM dengan MEMBER TERBESAR DI INDONESIA yang dipostingkan orang yang menggunakan nickname d0ct0r yang kini di arsipkan oleh forum tersebut .walaupun sudah dipostingkan hampir dua tahun yang lalu,semoga apa yang ia sampaikan bisa bermanfaat untuk pembaca di blog ini Saya(d0ct0r) menulis ini bukan bermaksud untuk, mengumbar bualan “teori konspirasi, apalagi memancing SARA. Saya bersikap NETRAL disini dan saya menulis trit ini hanya untuk menyajikan suatu analisa yang saya sadur dari berbagai laporan jurnalistik Asing. Tapi apapun yang terjadi, yang berlalu biarlah berlalu, mungkin hukuman mati sudah menjadi suratan nasib bagi Amrozy dkk. Kalo ada yang salah dalam tulisan saya, saya mohon maaf., dan CMIIW Kurang lebih pukul 11.30 malam, hari Sabtu tgl 12 Oktober 2002, saat seseorang entah dimana menekan tombol yang lalu mengirim sinyal radio ke antena bawah tanah yang terdapat didalam pipa saluran air hujan dekat Sari Club, Bali. Dan sepersekian juta detik kemudian, bola api mengerikan terbentuk di jalan. Bola api itu berbentuk lingakaran yang berkilauan, mungkin dibuat dari 99.78% Plutonium 239 yang diproduksi oleh fasilitas nuklir Dimona di gurun Negev, Israel Selatan (Joe Vialls) Beberapa detik berlalu dan monster mengerikan ini melanjutkan aksinya ke jalanan, menguapkan semua orang yang berdiri dalam jarak 30 kaki dan menggerus sekurangnya 2 ton serpihan aspal mematikan di sepanjang jalanan Kuta Bali. Tiap orang yang berdiri di jalur ledakan menderita luka bakar serius akibat emisi panas. Tidak lama kemudian, sang monster mengirim energi gelombang panas yang luar biasa dan segera menghanguskan sekurangnya 27 bangunan di area yang berdekatan, membakar area parkir yang berjarak 2 blok dari titik ledakan, dan kelak diketahui tidak ada alat Geiger manapun yang mendeteksi adanya radiasi. Kebiadaban ini nampaknya sebagai “hukuman” terhadap warga Australia dan warga Yahudi-Nasrani yang bertentangan dgn Islam. Diantara korban, orang Australia paling banyak, yang sebenarnya bersikap arif dalam menentang PM mereka, budak-nya George W. Bush dan Ariel Sharon dalam kebijakan kejinya terhadap Timur Tengah. Politisi dan ahli akademis cepat-2 berebut berbicara depan kamera televisi dengan penjelasan yang kurang bisa dipahami; bagaimana dan mengapa pengeboman terjadi di tempat pertama, dan mengapa lusinan korban dengan badan masih utuh jadi “lenyap” tanpa jejak. Masalah besar berikutya bagi politisi dan ahli adalah kawah besar di jalanan di luar Sari Club, kawah dengan kedalaman 5 kaki dan diameter 22 kaki. Kawah itu memberi bukti bahwa senjata diledakkan dari bawah tanah. Satu-2 nya jawaban kenapa bahan peledak dapat menciptakan kawah jika bila bahan peledak dijatuhkan dari pesawat dan melakukan penetrasi ke dalam tanah, atau bila bom itu secara fisik diletakkan di bawah tanah. Para politisi dan ahli sendiri nampaknya punya masalah dengan pemikiran mereka tentang kawah. Media massa juga ikut membantu dengan tidak menayangkannya di televisi atau koran-2, dan “pencucian otak” publik segera membuat orang melupakan kawah tersebut. Kemungkinan mengapa masyarakat tidak percaya juga disebabkan karena petasan buatan China dalam jumlah besar, suatu awal penyajian dis-informasi yang cukup serius.

If indeed the Mitsubishi L300 van was used in the large blast, the five-foot deep by twenty-foot wide crater indicates that it would have been completely vaporized, including the engine block which they apparently found intact – along with the victims who instantly vanished. Indeed, this begs the question: Where did the investigators obtain this evidence in relation to the crater? http://www.thetruthseeker.co.uk/ Kurang dari 24 jam setelah ledakan, media massa mengklaim bahwa penyidik di TKP “telah menemukan jejak C4. Ini adalah kebohongan, meski demikian berita tersebut cukup “menghancurkan”, sebab tiap orang yang punya televisi dan film-film Sylvester Stallone atau Bruce Willis menyadari betapa dahsyatnya C4 itu. Stallone mengahantam musuh-2 nya di depan mata pakai itu, dan Willis menggunakannya untuk menghancurkan pembajak pesawat. Dalam tiap tontonan tv ledakan diiringi dengan bola api raksasa yang dibuat untuk menggambarkan bahwa “neraka depan mata”, memberi kesan C4 adalah bom paling kuat di muka bumi. Composition (C) 4 adalah komponen stabil & lemah dari 91% RDX dan 9% non-explosive Polyisobutylene plasticiser. Sebenarnya C4 hanya 1.2 kali lebih kuat dari TNT. Bom plastik ini punya reputasi terutama karena penggunaannya yang fleksibel. Anda dapat meletakkannya sesuka anda, dan melekatkannya dimanapun kalian mau walau dalam air sekalipun. Let’s look at the myriad of explosive traces found at the site and subsequently cited individually off and on by investigators and police as “the explosive” used in the bombings. First it was C-4, then RDX. These two are actually the same, the difference being nine percent mallable plastic used in C-4. So, which is more powerful? RDX – nine percent more powerful than C-4. http://www.thetruthseeker.co.uk/

Pandangan media Australia tentang C4 sungguh dangkal, bola api raksasa yang selalu mengiringi ledakannya adalah tidak benar karena bola api raksasa itu adalah efek pyroteknik khusus yang didesain untuk memuaskan penonton. Ini disebabkan karena media dgn tangkas menaruh headline berita bersama dengan ulasan “ahli” untuk mencari tahu bahan peledak yang benar-benar dapat dipercaya publik, yaitu micro nuklir. Kurang dari 24 jam kemudian media mengubahnya jadi cerita “fiksi”; “sebuah minivan penuh dengan tabung gas”, dengan judul LEDAKAN diatasnya. Jelas itu ditujukan untuk menggiring opini publik akan senjata bernama FAE (Fuel Air Explosive) biasa dijuluki Poor Man Atomb Bomb, yang sukses dijatuhkan pesawat2 Amerika di Irak dan Vietnam.

Polisi Indonesia memakai masker dan sarung tangan, bandingkan dengan penyidik Australia dan Inggris yang berdiri dan menghirup zat kontaminan di TKP Setelah serangan teroris di Bali, “road show” kaum non-Muslim dipastikan mencapai puncak, dgn koran-koran Amerika yg melaporkan peristiwa itu secara besar-besaran. Coba lihat berita berikut; “ di kota Solo, sekitar 100 mahasiswa siswa sekolah pembela Abu Bakar Bashir dalam waktu singkat memblokir jalan masuk RS Muhammadiyah dimana dia dirawat karena penyakit jantung dan pernafasan. Polisi bersiaga, namun tidak menghalangi…”. Pemerintah menuduh Baasyir terkait al-Qaida dan mengatakan jika kaki tangannya, dikenal dengan nama Hambali, adalah orang yang berada dibalik pemboman-2 di tanah air. 2 org itu juga dituduh sbg pimpinan jemaah Islamiyah, yang dipercaya sbg aliansi utama Al-Qaeda di Asia Tenggara. “Bashir ditangkap hari Sabtu atas tuduhan bom Natal thn 2000 dmn 19 org tewas. Dia sebelumnya menolak keterlibatannya dalam serangan itu dan juga bom Bali. Dia juga menuduh CIA mengarang cerita Jemaah Islamiyah dan Al-Qaeda sebagai alasan untuk menyiksa kaum Muslim dan membuat kekacauan antar umat beragama”. Pernyataan Bashir jelas benar, karena tidak ada anggota ‘Al Qaeda” fiktif yang bisa menerobos ketatnya keamanan fasilitas nuklir Dimona di Israel untuk mencuri sebuah senjata nuklir (Joe Vialls) Usaha pemerintah Australia untuk menimpakan kesalahan bom Bali pada “Teroris Muslim” mengundang bahan tertawaan. Pemerintah Australia mengklaim bahwa ledakan heboh yang menguapkan lusinan korban di pantai Kuta disebabkan oleh bom yang “dibuat dari 50-150 kg klorat”, yang dicuri dari sebuah gudang di pulau Jawa selama bln September. Mengklaim bahwa bom bali dibuat dari potassium klorat adalah ketololan besar, dan jelas memperlihatkan tekanan Amerika dan Israel pada Australia agar secara resmi mengatakan “Orang muslim pelakunya”. Ya, kalian bisa bikin senjata pake 90% potasium klorat dan 10% paraffin, tapi sungguh lambat dan bakalan low-explossive. Membuat senjata yang tidak meledak prematur, dgn 400 pon potasium klorat dan parafin dicampur Power gel akan membuat kacau balau suasana jalanan Pantai Kuta, namun tidak mampu berbuat banyak. Suspensi potasium klorat dan parafin memiliki kecepatan detonasi 3500 kaki perdetik ( feet persecond/fps), bandingkan dengan Amonium Nitrat & Diesel 12.000 fps serta 22.800 fps untuk RDX. Dengan istilah lain, jarak berapapun dari titik ledakan, komponen peledak yang berbeda itu akan melakukan tekanan ke atas beberapa pon/incipersegi pada target. Derajat kerusakan pada target selalu sebanding dengan overpressure tekanan ke atas. Bukti mutlak bahwa dongeng Australia itu bohong dapat dilihat pada foto-2 struktur beton bertulang yang terletak diatas 50 kaki dari permukaan tanah. Setiap fragmen beton tercerai berai karena overpressure, dan hanya meninggalkan potongan2 pipa beton. Hal spesifik ini dijelaskan dengan gamblang oleh pensiunan Jenderal Benton K. Partin yang bertanggung jawab mutlak terhadap seluruh penelitian, pengembangan, ujicoba, pembaharuan dan manajemen sistem persenjataan di Angkatan Udara AS ( USAF); “Gelombang tekanan bom (1 juta-1.5 juta pond/inci persegi) dengan kecepatan ledak tinggi disertai gelombang kompresi mengakibatkan deformasi struktur beton. Karena tekanan gelombang melampaui ambang ketahanan beton (sekitar 3.500 pon/inci persegi), maka struktur beton berubah jadi serpihan pasir dan debu hingga gelombang ledakan lenyap atau berada dibawah ambang kekuatan beton.” Karena ledakan dengan air gap 50 kaki kurang memiliki energi besar yang cukup untuk melawan struktur fondasi beton, lalu 400 pon bahan peledak kimia digembar-gemborkan oleh Pemerintah Australia. RDX memang akan menekan (namun tak melampaui) 10 pon/inci persegi 50 kaki jauhnya dari titik ledakan, dan potasium klorat dengan takaran seimbang mungkin bisa mendesak 2 pon/inci persegi pada kisaran jarak yang sama. Masalahnya sudah jelas, dan kesimpulan dari pemerintah Australia yg menyederhanakan masalah dengan dongeng liar tentang detergen potasium klorat yang dicuri dari Jawa jelas tidak benar. Untuk menyebabkan kerusakan pada TKP di Bali, kita mesti punya senjata dengan senyawa berat, dan kecepatan ledakan harus cukup cepat untuk memastikan kalau tekanan 1 juta pon/inci persegi diberikan pada jarak 50 kaki dari titik ledakan. Hanya satu senjata di dunia yg tepat untuk membuat kegemparan ini, yaitu micro nuklir Dimona dari gurun Negev (Joe Vialls).

Tanggal 6 November 2002, klaim Joe Vialls tentang micro nuklir di Bali dipublikasikan di halaman depan koran-2 di seluru Pulau Jawa. Nampaknya klaim tsb disambut hangat di Indonesia setelah kecurigaan besar Australia dan keterlibatannya dalam penyidikan di Pantai Kuta yang tidak perlu. Sebagai catatan, untuk bisa mengukur tingkat kepercayaan dan perasaan sakit hati, tanyakan pada diri anda sendiri gimana kalo segerombolan polisi Indonesia tak diundang “menyelidiki” TKP di New York, Sydney, atau London. Keesokan paginya, anggota2 pemerintah RI di Jakarta terlibat pembicaraan serius mengenai senjata nuklir, dan dongeng lucu Australia_Amerika ttg “Jemaah Islamiyah & Al Qaeda yang menyerang Bali” dengan cepat menyebar di Indonesia. Menurut sebuah sumber pemerintah di Jakarta, tindakan tegas diambil untuk memulihkan suasana namun dongeng Australia-Amerika pun dipaparkan ke depan mata publik. Tak berapa lama, seorang Jenderal terkait dengan TNI memerintahkan seorang pria bernama Amrozi untuk “segera” mengaku. Mengutip sebuah sumber pemerintah di Jakarta, “Amrozi disetrum 220 Volt, dicecokin secangkir Scopolamin, dan 30 menit kemudian Amrozy berani bersumpah bahwa dia adalah George Bush”. Penyidik Australia dan Amerika langsung terlibat dalam penyiksaan ini sekaligus dengan dungunya mengatakan pada pemirsa televisi bahwa mereka “tidak perlu untuk memeriksa kejiwaan tersangka”. Kenyataan ttg Amrozi adalah ia seorang mekanik motor dari sebuah desa di Lamongan, Jawa Timur, dimana istri dan tetangga-2nya bisa membuktikan bahwa dia tak pernah pergi kemana-mana. Namun kebenaran ini tidak mendapat perhatian umum, apalagi pihak Barat. Pagi hari tanggal 8 November, media-2 Barat dengan patuh memulai pernyataan burung Beo; “Amrozi diketahuhi memiliki kaitan dengan Jemaah Islamiyah yang berhubungan dengan Al Qaeda”. Pada hari yang sama, TV Al Jazeera dengan terang2an menyiarkan video “Osama bin Laden” yang mengklaim bahwa “Al Qaeda bertanggung jawab penuh terhadap Bom di Bali”. Oh iya?? Website dimana klaim gadungan ini dibuat dimiliki dan dioperasikan oleh sebuah perusahaan “gelap” di Qatar, markas besar Al Jazeera. Sabtu pagi tanggal 9 November, dinas Intelijen dari markasnya di London memberi peringatan yang mengerikan bahwa “Al Qaeda berencana menyerang Barat dengan senjata radiologis”. Sebagai catatan, senjata radiologis adalah bom konvensional berisi sampah nuklir yang tersebar didalamnya. Saat bom meledak, maka sampah nuklir tsb melempar material radioaktif, yang menyebabkan luka/trauma serius bagi korban yang terkena ledakan. Bukan kali pertama intelijen Inggris memakai teknik “halus” ini untuk mengalihkan perhatian publik dari mikro nuklir yang sebenarnya. Nah, jadi bila sekarang seorang menteri di Indonesia memerintahkan pencarian jejak radiasi di Bali, maka yang dilakukan sang Jenderal adalah mengumpulkan lebih banyak “tersangka”, menyetrumnya dgn tegangan 220 Volt, menuangkan Scopolamine ke dalam tenggorokan mereka, dan memaksa mereka “mengaku” bahwa “Al Qaeda mistis” telah memasok sampah nuklir untuk ditaruh di bom bikinan mereka yang dibuat dari deterjen potasium klorat.

That’s Detachment 88, the police counter-terror unit which receives a great deal of the international aid, including substantial assistance from Australia. Like the military, Detachment 88 is controversial. Its members stand accused of repeatedly using torture in interrogation of suspects. But these allegations don’t seem to even raise an eyebrow. http://www.globalresearch.ca (NB: Scopolamin adalah sejenis zat alkaloid yang digunakan sebagai zat sedatif, biasanya dipakai untuk mengorek keterangan jujur dari seseorang)

Senin tgl 18 November, Ketua MPR Amien Rais menjawab pertanyaan ttg validitas kesimpulan polisi bahwa Amrozi adalah pelaku utama bom Bali. Amien juga didukung oleh jubir istana A.M Fatwa yang menyatakan; “ Saya sadar bahwa dia bukan aktor kunci. Saya tidak percaya bahwa Amrozi punya kemampuan untuk mempersiapkan segala bahan yang diperlukan untuk pengeboman seperti yg tjd di Bali. Pernyataan yg dibuat oleh 2 orang politisi yang punya posisi kuat ini drancang untuk menandingi polisi Australia dan disinformasi media mengenai bom Kuta Bali. Sejumlah besar media di Asia dan Timur Tengah melaporkan komentar Amien dan Fatwa, tapi yang jelas Australia dan Amerika tdk menggubris. Satu hari sebelum upacara penyucian umat Hindu di lokasi pengeboman (15 Nov), kepala polisi setempat dengan penuh perhatian mengarak tersangka utama Amrozi di depan media massa. Yang terlihat adalah Amrozi yg tampak disorientasi, melantur kayak pecandu obat bius, terisolir dari sorotan kacamata tebal para jurnalis Barat, dan terlihat seperti tak punya masalah dengan para penegak keadilan sakral kita. Bukan itu saja, Amrozy menatap tajam dengan penuh harapan melalui kabut distorsi jiwanya disertai sorot mata penuh kegembiraan di depan kamera televisi. Dia ditanyai ttg pernyataannya yang menikmati membunuh orang, ingin membunuh lebih banyak lagi, khususnya membantai lebih banyak lagi orang Amerika -(Joe Vialls). Begitu tebal kabut distorsi yang melingkupi jiwanya, sehingga Amrozi benar-2 lupa bahwa hukuman untuk “mengakui” tindakan kriminal kayak begini adalah berhadapan dengan regu tembak. Untuk mengetahui dengan jelas siapa yang membayar dan mengarahkan permainan Amrozi di Bali, kita hanya perlu melihat baik2 dimana kisah ini diungkap, siaran dengan detil besar2an dari media Barat, dan siapa yang paling diuntungkan dari panggung permainan ini. Coba kita pikir & renungkan dengan baik, disini ada seseorang tersangka “jahat” mengaku sebagai pembantai massal terbesar dalam sejarah, dan nampaknya terkait dengan “organisasi teroris” spt yang dijajakan tiada henti oleh media Amerika. Berdasarkan “track record” nya, New York segera mengangkat kisah ini, dan tanpa belas kasih terus mempromosikan kisah fiksi “kelompok teroris” ini. Satu-2 nya kemungkinan atau alasan yang masuk akal knp peristiwa spektakuler ini tidak mendapat perhatian pemirsa tv di Amerika selama 3 hari, karena pemerintah AS sudah tahu bahwa kejadian ini adalah tipuan yang menyedihkan, mungkin didanai agen bayangan pemerintah di Bali dari uang 100 $ hasil korupsi pejabat pemerintah. Ada kemungkinan 99% kalau kaum Yahudi itu sendiri yang mengatur serangan di Bali dengan tujuan terciptanya dukungan publik Australia terhadap ‘kampanye minyak’ di Timur Tengah. (Joe Vialls) Jadi apakah para anggota tim penyidik sekarang siap mengatakan dengan tepat bahan peledak apakah yang digunakan di Bali? Mereka tiba-tiba terdiam tanpa alasan. Dan untuk yang pertama kali dalam beberapa minggu, penyidik2 tersebut tiba-tiba memakai pakaian pelindung maksimum termasuk masker dan kerudung kedap udara. Hari di saat umat Hindu mengadakan upacara penyucian, isi kawah dan puing2 dari lokasi bom dibuang ke laut lepas. Sore harinya para penggali mulai bekerja, denga penuh rasa takut mengangkat serpihan dari jalanan utama Kuta sebelum para politisi Jakarta yang curiga datang memeriksa. Mengangkat bukti fisik cenderung lebih mengundang kontroversi dan tentu saja tdk menghentikan pihak yang ingin membuktikan bahwa serangan ini bukan berasal dari pihak Muslim yg dilakukan terhadap orang Inggris, Australia, dan Indonesia. Dengan membiarkkan penggali dan pengangkut membuang bukti dan meratakan TKP, pihak pemerintah memberi klarifikasi pada publik bahwa mereka telah mengangkat tiap potongan tubuh dari TKP, karena jika tiap potongan tubuh tidak diangkat, maka konvensi Internasional akan menyatakan bahwa TKP tetap menjadi TKP hingga pengangkatan penuh bisa dilakukan, yang normalnya memakan waktu hingga beberapa bulan. Politisi Jakarta mungkin tidak sadar dengan fakta ini, namun jejak nuklir dapat dibuktikan tidak hanya dari ketersediaan bukti di TKP, namun juga bukti yang harus diangkat dan dievakuasi dari TKP. Sebab senjata nuklir adalah satu-2 nya senjata yang dapat menciptakan panas dan tekanan yang cukup untuk menguapkan tubuh manusia dengan lengkap. Pemerintah Barat dan media menjadi gugup dengan 3 jurnalis investigatif yang ‘menerobos’ Bandar Udara Ngurah Rai, Denpasar dan menyatakan ttg pergerakan pesawat tertentu pada tgl 12 dan 13 Oktober yang secara sistematis dihapus dari catatan log menara kontrol. Stidaknya 2 dari data pesawat yang dihapus memakai “pelat nomor palsu”. Semua perubahan halaman tower log, dan halaman handling log yang membuktikan waktu kedatangan dan keberangkatan 3 pesawat “misterius” tsb telah difoto dengan cermat dan disimpan untuk keperluan di waktu yg akan datang.

Chlorate, detonator cord & TNT” Tak ada keraguan bahwa dengan Sodium Penthatol (sejenis obat bius) dan mungkin setrum tegangan tinggi membuat tersangka Amrozi “mengaku” memasok potasium klorat, bubuk aluminium dan kabel saklar yang tidak dapat meledak walau kayak gimanapun anda mencampurnya. Harap diingat bahwa kristal potasium klorat bukan peledak, dan butuh augmentasi serta teknik dari org berpengalaman yg sebenarnya hanya menimbulkan ledakan bersifat low-explosive. Kita terapkan di Pantai Kuta, maka “bom” buatan Amrozi tidak lebih berbahaya dari sekedar petasan anak-anak. Kepala Kepolisian Federal Anti Terorisme Australia, Tim Morris, masih sedikit kreatif. Tim mengklaim bahwa bom dibuat dari klorat, detonator cord (cordex) dan TNT. Bagus, Tim! TNT tentu akan memicu cordex, atau cordex yang memicu TNT, namun tidak ada yang mampu berbuat banyak terhadap potasium klorat pemalas itu, yang mana harus dicampur dulu dengan hati-hati bersama sejumlah paraffin wax dengan ukuran tepat. Terapkan di Pantai Kuta, maka bom buatan Tim akan membunuh segelintir orang akibat ledakan, dan sekaligus memutihkan kaos ratusan orang di dekatnya! Polisi dari Indonesia, seorang ahli bahan peledak bernama Zainuri Lubis, dengan lemah lembut menyatakan bahwa bom dibuat dari klorat, black powder, dan TNT yang “dicampur bersama”. Lubis adalah ahli bahan peledak tulen (tidak seperti Amrozy dan Tim), yang selalu tersenyum lebar dalam wawancara media, dan secara halus nampak menyesatkan pengaruh media Barat yang selalu menentangnya. Bersama dengan ahli bahan peledak lain di muka bumi, Lubis sangat menyadari bahwa anda tidak dapat MENCAMPUR kristal potasium klorat dengan partikel black powder yang sensitif itu. Anda tentu saja dapat mencobanya, tapi saya sarankan jangan, jika anda masih pengen hidup cukup lama untuk menikmati rasanya makan malam. Jeda detik saat “bomber” mulai mencampur, kristal potasium klorat akan menciptakan gesekan besar di sepanjang permukaan partikel black powder yang kemudian bereaksi hebat dengan hasil suatu ledakan kuat, tergantung dari ukuran partikelnya. Saat yg bersamaan, suatu reaksi eksotermik (panas) akan dimulai diantara 2 bahan campuran tersebut. Jika gesekan tadi tidak meminta nyawa “sang bomber”, maka reaksi eksotermis secepat kilat akan mengubah “sang bomber” menjadi Lilin Romawi panas. Jadi, bom pilihan Zainuri Lubis tidak dapat diterapkan di pantai Kuta, sebab bomber khayalan pastilah sudah hangus terbakar dalam “laboratorium rahasia” khayalannya.



Tersangka Bom Bali Ali Imron mendemonstrasikan bagaimana cara merakit bom dengan campuran chlorate-black-powder-TNT. Tapi kayaknya dia lupa mejelaskan kenapa dia tidak turut meledak dan terbang ke langit saat mencoba mencampurnya.. Penyelidikan paralel di Bali oleh 3 jurnalis investigasi Amerika, memberi fakta mengejutkan tentang malam kejadian tgl 12-13 Oktober 2002, dimana catatan log menara kontrol secara sistematis di “edit” untuk mengecualikan beberapa gerakan pesawat mencurigakan yang keluar masuk Denpasar. Hal yg paling mencurigakan tentu saja adalah “editing” itu sendiri. Namun mengapa seseorang mau-maunya terlibat kesulitan dengan mendobrak menara kontrol dan menghapus detail2 penerbangan, jika pesawat yang “dimaksud” itu digunakan untuk operasi resmi yang alasannya bisa dijelaskan dengan mudah nantinya? The Jakarta Post The Jakarta Post, By Robert S. Finnegan – National News – January 03, 2003 Timeline: The Bali Bombing, a comprehensive overview Tuesday Oct. 15 Police say C-4 was explosive material used to make bomb. U.S. says al-Qaeda and Abu Bakar Ba’asyir responsible for bombing. Hamzah Haz says Muslims not responsible and bombing was “engineered”. Wednesday Oct. 16 Hendropriyono says both technology and skills of bombers indicate they are from abroad and must have carried out surveillance before the attack. Bali Police Chief Brig. Gen. Budi Setyawan said there is no indication of al-Qaeda involvement so far. The Washington Post reports Indonesian police arrest former Air Force Lieutenant Colonel who allegedly confessed to building bomb that killed over 180 people and expressed regret for huge loss of life. Air First Marshall says suspect released and this proves no Air Force Involvement. Thursday Oct. 17 Susilo Yudhoyono admits possible involvement of foreigners in bombing. Authorities focusing on seven “foreigners” suspected to have masterminded and carried out the bombings, a terrorist cell said to have been led by a Yemeni national, his Malaysian deputy and a European with links to Philippine bombings. Police Chief Brig. Gen. Budi confirms bomb made of RDX. Indonesian Army Brig. Gen. Ratyono denies Army supplied C-4 to terrorists. Denies Army possesses C-4 “bombs”. Friday Oct. 18 Hendropriono says technology and skills employed by attackers indicate they are from abroad. Sunday Oct. 20 Pastika says investigation team focusing on four persons, including a security guard and a retired Air Force officer. Monday Oct. 21 Police receive order to release former Air Force Officer Dedi Masrukhin although suspicions of his link to Bali blasts remain strong. Forensics experts admit some victims could have been completely consumed by blast. Tuesday Oct. 22 Omar al-Faraq allegedly tells CIA bin Laden transferred US $133,440 to JI for purchase of three tons of explosives from Indonesian military sources. AFP agent Brett Swan says because of scale of explosion “highly organized perpetrators” carried it out. U.S. declares “technology transfer review” between U.S. and RI as high-tech U.S. items may be found at bomb site. Wednesday Oct. 23 Aritonang says investigators have determined specifications of bombs but not how they were deployed, large bomb made of RDX with a “derivative” of Ammonium Nitrate. Friday Oct. 25 Aritonang says bomb was RDX and Ammonium Nitrate. Saturday Oct. 26 Maj. Gen. Muhdi Purwopranjono (Kopassus) claims to have identified bombers. Joint investigating team says it’s still in dark. Aritonang says bombings were carefully and professionally planned and executed. Sunday Oct. 27 Pastika says bombs made by Indonesians who “could not have done it without help from foreign bomb experts. We believe that the explosives were brought in from outside Bali” and “The technology using mobile phones as a remote control is new for Indonesia and something that requires guidance from foreign experts.” Monday Oct. 28 Two Generals, one police, one army named as possible suspects in bombing and subsequently file suit against Washington Post for libel. Tuesday Oct. 29 Susilo Yudhoyono denies Army, Police Generals involved in bombing. Wednesday Oct. 30 Pastika says “main player” identified who is also bomb maker. Thursday Oct. 31 Police release three sketches of bomb suspects. Muchyar Yara says that the three were part of a list of 10 names submitted to police. Friday Nov. 1 Da’I Bachtiar says they have identified East Javanese man but have not found him yet, along with driver of the van. Bachtiar says they used TNT, RDX, HDX and Ammonium Nitrate. U.S. ambassador Ralph Boyce says media accusations of U.S. involvement in bombing “inaccurate and unhelpful.” Defense Minister Matori Djalil links bombing to JI and al-Qaeda. Australian ASIO director Dennis Richardson does the same. Saturday Nov. 2 International investigation team finishes forensics after less than three weeks on site, concluding that bomb was TNT, RDX and other “materials” including chloride. AFP forensic team member says “we have all we need to nail these bad guys down,” BIN says bombings involved “skilled foreign experts”. Muchyar Yara says “We are sure that foreign experts along with Indonesian experts or perpetrators were involved.” National Police said bombs were constructed of TNT, RDX and HMX. AFP officer Graham Ashton say that the degree of coordination and vehicle placement reflected a high degree of planning and expertise. BIN issues a report saying bombs were made of Semtex. Sunday Nov. 3 Police release on Nov. 2 man arrested in Ngada regency. Brig.Gen Aritonang says it’s the wrong guy. Police raid house on Java and find photo matching suspect in composite sketch release earlier in week. 120 Australian police and intelligence officers working in Bali in addition to international investigators. Minister of Defense Matori Jalil accuses al-Qaeda of bombings. Australia accuses JI of bombing. Monday Nov. 4 International team says bombers are professionals. Intelligence sources say foreign perpetrators would hide for 6 months before trying to get out of the country. Thursday Nov. 07 Mitsubishi van owner arrested in East Java on Nov. 5. Gen. Heru Susanto identifies owner of van as Amz, 30, arrested in Paciran village in Lamongan. Amz says he bought van from man identified as Her from Tuban. Joint inquiry team issues statement that a white Mitsubishi L300 van loaded with explosives stopped minutes before the blast in front of Sari club in drop off area not normally used for parking. Aritonang says police have not named any suspects in relation to the bombing. Are focusing investigation on ten persons. Friday Nov. 8 Da’I Bachtiar says Amrozi admitted using van for bombing and renting motorcycles and other car for bombing. Admits Amrozi does not match sketches. Panorama in Italy reports Italian national bar owner “Sartoni” in Bali arrested in connection with bombing. Asian Wall Street journal reports Hambali as planning bombing during meetings in south Thailand. Saturday Nov. 9 Pastika says Amrozi admits to helping build main bomb, admits to being field coordinator for bombing. Sunday Nov. 10 Police claim Amrozi bought sulfur, ammonium, fluorine and chlorate from Tidar Kimina chemical store in Surabaya. Monday Nov. 11 Police claim to have produced an initial reconstruction of planning and execution of bombing, also that Amrozi purchased over one ton of chemicals to produce bombs from Silvester Tendean. Former Bakin official AC Manullang expresses doubts about Amrozi’s part in pro team responsible for bombing. Aritonang says Amrozi prime suspect in bombing. Tuesday Nov. 12 Pastika says 10 Indonesians suspected of bombing. Amrozi states he wanted to kill Americans in bombing. Bachtiar says Amrozi held four meetings in Surakarta to plan bombings. Anti-terrorism officer and chemical expert express doubt over police claims they have identified bombers. Kopassus NCO says bombing would take a year of practice to execute. Chemical expert rules out conventional explosives, say they are incapable of causing level of destruction at Kuta. Wednesday Nov. 13 Amrozi says he did not assemble bomb. Pastika says bomb consisted of 100 kilos TNT, PETN detonator and RDX “booster”. Thursday Nov. 14 Amrozi fingers Samudra as one of the masterminds of the bombing, says he drove van to Bali but denies assembling bomb. Saturday Nov. 16 JL named as prime suspect in blast. Monday Nov. 18 Joint investigation team identifies 6 more suspects: Patek, Samdura, Imron, Wayan, Dulmatin, Idris with Samdura, Dulmatin and Idris as bomb assemblers. Samdura leader of group, Idris second in command, Dulmatin as detonator with his cell phone, electronics expert. Amrozi refuses to identify driver of van. Tuesday Nov. 19 Pastika says investigators have not yet focused on source of explosives, too early to move on that and only arrest of perpetrators would lead them to device. Police say they found RDX and TNT trace at blast site. TNI denies ever storing RDX or C-4. PT Dahana confirms importing RDX for limited parties and military. Wednesday Nov. 20 Da’I Bachtiar says there are other “materials” Amrozi did not procure in Surabaya and “has no capacity to make bombs”. Australian police say they have not found RDX residue at site, only Chlorate and TNT. Pastika will not confirm or deny foreign involvement. Thursday Nov. 21 Hermawan Sulistyo says amount of explosives required do not match van story. Police confirm chemicals purchased by Amrozi were not main bomb materials. Pastika says main bomb materials TNT and RDX. Friday Nov. 22 Three “mystery” men appear in Amrozi interrogation transcript, Amrozi appears to be in dark about Sari and Paddy club bombings until he sees it on TV. Pastika claims he has not read interrogation report, now claims that only seven suspects have been identified. Saturday Nov. 23 Bachtiar says that Amrozi himself provided the vehicle and materials for the bombs. Sunday Nov. 24 Bachtiar says bombings carried out by three groups under leadership of Hambali. Monday Nov. 25 Police claim that the device used at Paddy’s was detonated 118 centimeters above the ground. Time Magazine claims Yemeni terrorist mastermind of Bali Bombing. Tuesday Nov. 26 Police detain “accomplices” in bombing. Police claim Samudra was in process of getting fake passport to travel to Malaysia. Wednesday Nov. 27 Legal experts say Amrozi and Samudra confessions inadmissible under KUHP. Thursday Nov. 28 Bali bombing victims call for death of perpetrators. Friday Nov. 29 Aritonang says Samudra interrogation transcripts on Bali bombing not included in his case file because a lawyer did not accompany suspect. Saturday Nov. 30 Australian Police now say JI “operating in Indonesia”. Samudra claims he masterminded Batam bombings. Sunday Dec. 1 Lawyers for Samudra say he is not linked to Ba’asyir or Mukhlas. Monday Dec. 2 Political analyst Hermawan Sulistyo hints that media reports, including those from Time, which relied on “intelligence sources”, may be false. Tuesday Dec. 3 Police release names of 163 Bali bombing victims. Wednesday Dec. 4 Bali investigating team “not sure” when investigation into the approximately 200 missing in the bombings will begin. Thursday Dec. 5 Police say they have captured alleged JI operations chief Mukhlas. Bomb blasts rock McDonald’s and car dealership in Sulawesi, killing three. Monday Dec. 9 Pastika says at least “90 percent” of the Bali bombing plot had been uncovered. Tuesday Dec. 10 Pastika says dossiers on Bali bombing suspects had to be “perfect”, but has yet to assign responsibility for the three blasts to suspects or determine explosives used. Sulawesi Police Chief Gen. Firman Gani says they have linked Sulawesi bombers with Bali bombings. Wednesday Dec. 11 Samudra lawyer expresses doubt on client’s ability to assemble explosives, alleges that Samudra and other suspects had been manipulated by a “third party” to discredit Islam in Indonesia, suggests two devices were used in bombings: one conventional and one “high tech device of great power”. Lawyer also says eyewitness saw something fall from sky before explosion. Thursday Dec. 12 Joint investigative team says Makassar, Bali bombings closely linked. Friday Dec. 13 Aritonang says he has strong case in Bali bombings. Says he does not have specialized knowledge to discuss explosives used in detail. Saturday Dec. 14 Samudra denies knowing Mukhlas, Gufron, denies receiving funds from them. Wanted to kill Israeli spies, Americans. Says he did not assemble bombs or know where they were assembled. Bachtiar questions whether Amrozi and Samudra acted alone in all bombings. GlobalResearch Many Indonesians would find the idea of trusting the police laughable. It has long been regarded as one of the most corrupt and incompetent institutions in the country. Former president, Abdurrahman Wahid sums up what many people here belief. ABDURRAHMAN WAHID: All of them are liars. REPORTER: Just to be clear, you have your doubts about the police ability to investigate properly all of this? ABDURRAHMAN WAHID: Oh, yes. But none of this seems to worry Indonesia’s allies in the war on terror. POLICE (Translation): Have you just got back? DAI-BACHTIAR, POLICE CHIEF (Translation): I see this man a lot. POLICE (Translation): Were you in America? Did you get any more money? DAI-BACHTIAR (Translation): 10 million. We get big bucks. We got 50 million all up. Sure. They keep asking about 88. That’s Detachment 88, the police counter-terror unit which receives a great deal of the international aid, including substantial assistance from Australia. Like the military, Detachment 88 is controversial. Its members stand accused of repeatedly using torture in interrogation of suspects. But these allegations don’t seem to even raise an eyebrow. DAI-BACHTIAR (Translation): The Secretary-General of Interpol came to visit Aceh. I met him. He said our police were dealing with terrorism in a professional manner. 500 million euros. For the police. Long term. So far I’ve received directly 500 from Denmark. They gave 5, but 500 all up. The Dutch gave 2. The money is flowing like water but outside the chamber, unrelated to the anti-terror funding, is a scene that should make donors think twice. A man from the Religious Affairs Commission sitting next door counts cash to be distributed amongst voting politicians. Call it corruption or even the trickle down effect, but it’s this kind of informal funds distribution which keeps the wheels turning in the Indonesian economy. DAI-BACHTIAR (Translation): Well now, for example, the other day I got 2 million from Holland… From America… it was 50. Is it 50 already? You know how much the army got? 600. Then they had to get involved.

Related Posts by Categories



Widget by Nanda Irawan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar